01 Juli 2009

Harga BBM Non Subsidi Bersaing Ketat


Jakarta - Pengusaha ritel BBM tak lagi kuasa menahan lonjakan harga minyak dunia. Sejumlah perusahaan migas yang mengoperasikan SPBU di Jakarta terpaksa menaikkan harga jual BBM non subsidinya ke level harga yang sama. Persaingan makin ketat.

Ketatnya persaingan ini terlihat pada harga BBM non subsidi di tiga SPBU yang berbeda yaitu Pertamina (SPBU Bersaing), Shell dan Total. Ketiga perusahaan ini sama-sama mematok harga BBM non subsidi beroktan 92 di level Rp 6.200 per liter.

BBM oktan 92 di SPBU Pertamina dikenal dengan merek Pertamax, di SPBU Shell dikenal dengan merek Shell Super 92, dan di SPBU Total dengan sebutan Performance 92.

Kompetisi makin terasa di BBM beroktan 95. Pertamina yang mengusung Pertamax Plus dan Total dengan merek Performance 95 sama-sama membandrol BBM oktan 95 di harga Rp 6.900 per liter.

Sementara Shell melalui produk BBM oktan 95 bernama Super Extra 95 agak tertinggal karena mematok harga Rp 7.000 per liter.

Kondisi yang berbeda terjadi di bisnis BBM diesel. Kali ini, Total selangkah lebih maju dengan membandrol Performance Diesel-nya di harga Rp 6.900 per liter. Sedangkan Shell melalui Shell Diesel dan Pertamina dengan Pertamina Dex terpaksa mematok di Rp 7.000 per liter.

Persaingan harga BBM ini memang tak terbendung setelah harga minyak terus bertengger di kisaran US$ 70 per barel. Padahal setelah sempat menembus US$ 140 per barel, harga emas hitam ini pernah ringsek ke US$ 34 per barel. Pada saat itu, harga BBM ritel menjadi sangat murah dan membuka peluang bagi perusahaan asing untuk masuk ke pasar Indonesia.

Kini, seiring perbaikan ekonomi dunia yang mendongkrak permintaan, harga minyak kembali bangkit dan perusahaan BBM ritel kembali harus menyesuaikan diri.

Untuk periode Juli 2009, kenaikan harga pertama kali dilakukan oleh Pertamina. Seperti kebiasaannya, Pertamina selalu menyesuaikan harga BBM non subsidinya setiap tanggal 1 dan 15 tiap bulannya.

Kenaikan harga ini diikuti oleh SPBU Total tadi malam. "Kami menyesuaikan dengan harga MOPS," kata Brand and Communication Total Oil Indonesia Rulianti Syahrul dalam
pesan singkatnya kepada detikFinance, Kamis (2/7/2009).

Hal senada juga terjadi di SPBU Shell yang menaikkan harga BBM per 2 Juli 2009. "Kenaikan ini terjadi karena harga minyak regional yang terefleksikan di MOPS," ungkap Manager Media Relations, External Affairs and Communications Shell Fathia Syarif ketika dihubungi.

Kenaikan harga BBM non subsidi ini mencerminkan disparitas harga keekonomian yang semakin tinggi. Di lain pihak, harga BBM bersubsidi tak kunjung naik sehingga membuat subsidi BBM di APBN membengkak. Namun sampai kapan APBN bertahan?
(lih/nrl)


Sumber : http://www.detikfinance.com/

0 komentar: